Buku Serat Panitibaya memuat penjelasan seratus tujuh puluh enam larangan, sebagai pedoman bagi generasi muda agar selalu mawas diri dalam mengarungi kehidupan. Pokok-pokok ajaran yang terkandung di dalamnya sebagai berikut: 1) kewajiban manusia pada Sang Pencipta; 2) sifat-sifat tidak terpuji yang harus dijauhi; 3) sifat-sifat terpuji; 4) perbuatan yang tidak dibenarkan bagi kaum pria; 5) sika…
Buku Piyarjita; Jilid II memuat kumpulan enam puluh sembilan kiasan Jawa yang diuraikan makna-maknanya. Kiasan-kiasan itu antara lain: 1) hempaning wani lan wedi; 2) luruke sluru; 3) kang katon sudu sajati; 4) sasar-susuring dalan; 5) hurmat kang wis mungguh; dan seterusnya.
Buku Serat Wicara Sandi memuat uraian tata cara atau patokan berbicara dengan menggunakan bahasa rahasia (wicara sandi) Jawa, yaitu: 1) Wicara sandi dengan menggunakan "panambang tina"; 2) Wicara sandi dengan menggunakan "garba sastra"; 3) Wicara sandi dengan menggunakan "ater-ater su"; 4) Wicara sandi dengan menggunakan "bali swara"; 5) Wicara sandi dengan menggunakan "lambang sastra"; dan 6) …
Buku Piyarjita; Jilid III memuat kumpulan tujuh puluh lima kiasan Jawa yang diuraikan makna-maknanya. Kiasan-kiasan itu antara lain: 1) Pepenginan kang ora nglabeti; 2) Ing buri padha karo ing ngarep; 3) Panggaweyan kang nuwuhake kadrengken; 4) Andheng-andhenge wong gedhe; 5) Kalakuwan kang nyuremake sorot; dan seterusnya.
Buku Serat Sandi; A memuat uraian petunjuk menyusun sastra sandi. Ada sepuluh pokok bahasan dalam teks, dimulai dari penjelasan soal aksara "wyanjana" atau hanacaraka, kemudian penurunannya menjadi aksara sandi, berikut rincian-rinciannya, dan diakhiri dengan contoh penggunaan dalam tembang.
Buku Layang Sasmita Titika memuat keterangan tanda-tanda akan terjadinya sesuatu pada seseorang, yakni: 1) menemukan kesenangan atau kesedihan; 2) tergapai atau tidak tergapainya hajat; 3) menemukan kebahagiaan atau kesusahan; 4) menemukan keberuntungan atau kecelakaan; 5) panjang atau pendek usianya.
Buku Serat Aksara Sandi berisi uraian tentang aksara sandi. Aksara sandi merujuk pada aksara Jawa yang bentuknya dimodifikasi agar tidak mudah dibaca dan digunakan dalam kepentingan persandian. Dalam buku ini, bentukan aksara sandi ada tiga macam, yakni: 1) buah duku; 2) "ukel" atau "undher"; serta 3) garis melintang-membujur seperti ujung pisau yang runcing.